Alquran Online

Alquran-Indonesia.com

Quran Online terjemahan perkata,tajwid,latin dan asbabun nuzul
  • Jumlah Surat

    114

  • Jumlah Ayat

    6236

Al-Baqarah / Madinah (2:5)

اُولٰٓٮِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنۡ رَّبِّهِمۡ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ‏ ﴿۵﴾  

5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung [19]. [19] Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya.

ulaa-ika 'alaa hudan min rabbihim waulaa-ika humu almuflihuuna

Al-Baqarah / Madinah (2:12)

اَلَا ۤ اِنَّهُمۡ هُمُ الۡمُفۡسِدُوۡنَ وَلٰـكِنۡ لَّا يَشۡعُرُوۡنَ‏ ﴿۱۲﴾  

12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

alaa innahum humu almufsiduuna walaakin laa yasy'uruuna

Al-Baqarah / Madinah (2:16)

اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ اشۡتَرَوُا الضَّلٰلَةَ بِالۡهُدٰى فَمَا رَبِحَتۡ تِّجَارَتُهُمۡ وَمَا كَانُوۡا مُهۡتَدِيۡنَ‏ ﴿۱۶﴾  

16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.

ulaa-ika alladziina isytarawuu aldhdhalaalata bialhudaa famaa rabihat tijaaratuhum wamaa kaanuu muhtadiina

Al-Baqarah / Madinah (2:27)

الَّذِيۡنَ يَنۡقُضُوۡنَ عَهۡدَ اللّٰهِ مِنۡۢ بَعۡدِ مِيۡثَاقِهٖ وَيَقۡطَعُوۡنَ مَآ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنۡ يُّوۡصَلَ وَيُفۡسِدُوۡنَ فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ‏ ﴿۲۷﴾  

27. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.

alladziina yanqudhuuna 'ahda allaahi min ba'di miitsaaqihi wayaqtha'uuna maa amara allaahu bihi an yuushala wayufsiduuna fii al-ardhi ulaa-ika humu alkhaasiruuna

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari As-Saddiy dengan sanad-sanadnya, tatkala Allah membuat dua buah perumpamaan ini bagi orang-orang munafik, yakni firman-Nya, "Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api" dan firman-Nya, "Atau seperti hujan lebat dari langit", orang-orang munafik mengatakan bahwa Allah lebih tinggi dan lebih agung-sampai membuat perumpamaan-perumpamaan ini. Maka Allah menurunkan, "Sesungguhnya Allah tidak merasa malu untuk membuat tamsil perumpamaan.." sampai dengan firman-Nya "... merekalah orang-orang yang merugi." (Q.S. Al-Baqarah 26-27) Diketengahkan oleh Wahidi dari jalur Abdul Ghani bin Said As-Tsaqafi, dari Musa bin Abdurrahman, dari Ibnu Juraij, dari Atha, dari Ibnu Abbas, katanya, "Allah menyebutkan tuhan-tuhan pujaan orang-orang musyrik, maka firman-Nya, 'Dan sekiranya lalat mengambil sesuatu dari mereka,' (Al-Hajj 73) lalu disebutnya pula tipu daya tuhan-tuhan itu, dan dianggap-Nya seperti sarang laba-laba, maka kata mereka 'Bagaimana pendapatmu ketika Allah menyebut-nyebut lalat dan laba-laba dalam Alquran yang diturunkan-Nya, apa maksud-Nya dengan ini?' Maka Allah pun menurunkan ayat ini." Abdul Ghani adalah orang yang amat lemah. Abdur Razaq mengatakan dalam Tafsirnya, "Mu`ammar menyampaikan dari Qatadah tatkala Allah menyebut-nyebut soal lalat dan laba-laba, bahwa orang-orang musyrik berkata, 'Kenapa pula soal lalat dan laba-laba ini disebut-sebut?' Maka Allah menurunkan ayat ini."

Al-Baqarah / Madinah (2:81)

بَلٰى مَنۡ كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَاطَتۡ بِهٖ خَطِيْۤـــَٔتُهٗ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِ‌‌ۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ‏ ﴿۸۱﴾  

81. (Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

balaa man kasaba sayyi-atan wa-ahathat bihi khathii-atuhu faulaa-ika ash-haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna

Diketengahkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan oleh Ibnu Jarir serta Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abu Muhammad dan Ikrimah, atau dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, katanya, "Rasulullah saw. datang ke Madinah, sementara orang-orang Yahudi mengatakan, 'Usia dunia ini hanya tujuh ribu tahun, dan setiap seribu tahun dunia sama dengan satu hari akhirat lamanya, jadi tidak lebih dari tujuh hari, mereka disiksa dan setelah itu siksa pun terhentilah.' Maka mengenai hal ini Allah pun menurunkan, Kata mereka, 'Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka...' sampai dengan firman-Nya '...mereka kekal di dalamnya.'" (Q.S. Al-Baqarah 80-81). Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari Jalur Dhahhak dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Yahudi mengatakan, "Kami masuk neraka itu hanyalah selama kami menyembah anak sapi dulu, yaitu tidak lebih dari 40 hari. Jika masa itu telah berlalu, maka terputus pula siksaan terhadap kami." Maka turunlah ayat tersebut. Mengenai ayat ini Ibnu Jarir telah mengetengahkannya pula dari Ikrimah dan selainnya.

Al-Baqarah / Madinah (2:86)

اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ اشۡتَرَوُا الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا بِالۡاٰخِرَةِ‌ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ الۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنۡصَرُوۡنَ‏ ﴿۸۶﴾  

86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.

ulaa-ika alladziina isytarawuu alhayaata alddunyaa bial-aakhirati falaa yukhaffafu 'anhumu al'adzaabu walaa hum yunsharuuna

Al-Baqarah / Madinah (2:104)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَقُوۡلُوۡا رَاعِنَا وَ قُوۡلُوا انۡظُرۡنَا وَاسۡمَعُوۡا ‌ؕ وَلِلۡڪٰفِرِيۡنَ عَذَابٌ اَلِيۡمٌ‏ ﴿۱۰۴﴾  

104. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih [80]. [80] "Raa 'ina" berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut "Raa'ina" padahal yang mereka katakan ialah 'Ru'uunah" yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan "Raa'ina' dengan "Unzhurna" yang juga sama artinya dengan "Raa'ina'.

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu laa taquuluu raa'inaa waquuluu unzhurnaa waisma'uu walilkaafiriina 'adzaabun aliimun

Diketengahkan oleh Ibnu Mundzir, dari Sadiy, katanya, "Ada dua orang Yahudi, yaitu Malik bin Shaif dan Rifa`ah bin Zaid, jika mereka bertemu dengan Nabi saw. dan melawannya berbicara, mereka mengatakan kepadanya, 'Raa`ina dan seterusnya.' Menurut dugaan kaum muslimin, ini adalah perkataan yang biasa diucapkan oleh Ahli Kitab untuk menghormati nabi-nabi mereka, sehingga mereka pun mengucapkan pula kepada Nabi saw. Maka Allah swt. pun menurunkan, 'Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu katakan 'raa`naa', tapi katakanlah! 'unzhurnaa', dan hendaklah kamu dengarkan!" Dikeluarkan oleh Abu Na`im dalam kitab Dalail, dari jalur Sadiyush Shaghir dari Al-Kalbiy, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, katanya, "Dalam bahasa orang-orang Yahudi, raa`ina itu berarti makian keji. Tatkala mereka mendengar kawan-kawan mereka mengucapkannya, mereka pun menggalakkan pemakaiannya, di antara sesama mereka. Maka turunlah ayat tersebut, dan kebetulan Saad bin Muaz mendengar ucapan itu dari mulut orang-orang Yahudi, maka katanya kepada mereka, 'Hai musuh-musuh Allah! Sekiranya aku mendengar ucapan itu dari mulut salah seorang kamu setelah pertemuan ini, maka akan aku tebas batang lehernya!'" Diketengahkan oleh Ibnu Jarir dari Dhahhak, katanya, "Seseorang mengatakan ari'ni sam`aka', maka turunlah ayat ini." Diketengahkan pula dari Athiyyah, katanya, "Segolongan orang Yahudi mengatakan ari'na sam`aka, hingga beberapa orang kaum Muslimin mengucapkannya pula. Allah tidak menyukainya, maka turunlah ayat ini." Diketengahkan pula dari Qatadah, katanya, "Mereka biasa mengatakan raa'inaa sam'aka. Maka datanglah orang-orang Yahudi, lalu mengatakan pula seperti itu, hingga turunlah ayat." Diketengahkan pula dari Atha', katanya, "Ucapan itu merupakan ungkapan orang-orang Ansar di masa jahiliah, maka turunlah ayat." Diketengahkan pula dari Abu Aliyah, katanya, "Orang-orang Arab itu, jika mereka berbicara sesama mereka, maka salah seorang mereka biasa mengatakan kepada sahabatnya, 'Ari'ki sam`aka'. Maka mereka pun dilarang mengucapkan demikian."

Al-Baqarah / Madinah (2:115)

وَلِلّٰهِ الۡمَشۡرِقُ وَالۡمَغۡرِبُ‌ فَاَيۡنَمَا تُوَلُّوۡا فَثَمَّ وَجۡهُ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۱۱۵﴾  

115. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah [83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [83] 'Disitulah wajah Allah' maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

walillaahi almasyriqu waalmaghribu fa-aynamaa tuwalluu fatsamma wajhu allaahi inna allaaha waasi'un 'aliimun

Diketengahkan oleh Muslim, Tirmizi, dan Nasai dari Ibnu Umar, katanya, "Nabi saw. biasa salat sunah di atas kendaraannya ke mana saja ia menghadap, sewaktu beliau kembali dari Mekah ke Madinah. Kemudian Ibnu Umar membaca, 'Dan milik Allah lah timur dan barat,' seraya berkata, 'Mengenai hal itulah ayat ini diturunkan.'" Diketengahkan pula oleh Hakim, katanya, diturunkan ayat, "...maka ke mana saja kamu menghadap, di sanalah Zat Allah," (Q.S. Al-Baqarah 115) Anda dapat melakukan salat sunat di atas kendaraan Anda ke mana saja ia menghadap. Ia berkata, "Hadis ini sah menurut syarat Muslim." Inilah yang paling sah isnadnya mengenai ayat tersebut, bahkan dijadikan pegangan oleh suatu golongan. Tetapi padanya tidak ada ketegasan menyebutkan sebab, hanya dikatakannya bahwa ayat itu turun mengenai soal ini, dan hal itu telah kita bicarakan dulu. Di samping itu ada pula kita temui riwayat yang menyatakan asbabun nuzulnya secara tegas, misalnya yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas, bahwa tatkala Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau diperintahkan Allah untuk menghadap ke Baitulmakdis hingga orang-orang Yahudi gembira. Beberapa belas bulan lamanya Nabi menghadap ke Baitulmakdis, walau sebenarnya ia lebih menyukai kiblat Nabi Ibrahim. Ia selalu memohon kepada Allah dan menengadahkan mukanya ke langit, maka Allah pun menurunkan, "Maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Q.S. Al-Baqarah 144). Orang-orang Yahudi menjadi bingung karenanya, kata mereka, "Apa sebabnya mereka berpaling dari kiblat mereka semula?" Maka Allah pun menurunkan "Katakanlah! 'Dan milik Allah-lah timur dan barat', dan firman-Nya, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Isnadnya kuat dan maknanya juga menunjangnya, maka ambillah sebagai pegangan! Mengenai ayat ini, ada lagi beberapa riwayat lain yang lemah, misalnya yang dikeluarkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah dan Daruquthni, dari jalur Asy`ats As-Saman, dari Ashim bin Abdullah, dan Abdullah bin Amir bin Rabiah dari bapaknya, katanya, "Kami berada bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan di malam yang gelap gulita, hingga kami tidak mengetahui lagi arah kiblat. Maka kami melakukan salat di kendaraan masing-masing dan tatkala hari telah pagi, kami sampaikan hal itu kepada Nabi saw., maka turunlah, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Menurut Tirmizi hadis ini gharib atau langka, sedangkan Asy`ats lemah dalam meriwayatkan hadis. Diketengahkan oleh Daruquthni dan Ibnu Murdawaih, jalur Arzami, dari Atha', dari Jabir, katanya, "Rasulullah saw. mengirim pasukan yang aku ikut di dalamnya. Tiba-tiba datang gelap gulita hingga kami tidak tahu arah kiblat; sebagian sahabat mengatakan bahwa sepengetahuan mereka kiblat itu di sini yakni ke arah utara. Mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis. Tetapi sebagian lagi mengatakan bahwa kiblat itu ke arah selatan, hingga mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis pula. Tatkala hari pagi dan sang matahari menampakkan diri, ternyata bahwa garis-garis semalam tidak menghadap ke arah kiblat. Maka tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan hal itu kepada Nabi saw. Beliau diam, lalu Allah menurunkan, 'Dan milik Allahlah timur dan barat...' sampai akhir ayat." (Q.S. Al-Baqarah 115). Diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, dari jalur Al-Kalbiy, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. mengirim satu ekspedisi. Tiba-tiba mereka diselimuti kabut hingga tidak tahu arah kiblat, lalu melakukan salat. Kemudian setelah matahari terbit, ternyata mereka salat tidak menghadap arah kiblat. Tatkala mereka bertemu dengan Rasulullah, mereka sampaikan peristiwa itu, dan Allah lalu menurunkan ayat ini, "Dan milik Allah-lah timur dan barat..." sampai akhir ayat. (Q.S. Al-Baqarah 115). Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Qatadah, bahwa Nabi saw. bersabda, "Seorang saudara kamu telah meninggal dunia (maksudnya Najasyi,) maka salatkanlah dia!" Jawab mereka, "Apakah kita akan menyalatkan seseorang yang tidak beragama Islam?" Maka turunlah ayat, "Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah ..." sampai akhir ayat. (Q.S. Ali Imran 199). Kata mereka, "Tetapi salatnya ke arah kiblat." Maka Allah pun menurunkan, "Dan milik Allahlah timur dan barat ..." sampai akhir ayat. Riwayat ini amat gharib sekali, di samping ia mursal dan mu`dhal. Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, katanya, "Tatkala turun ayat, 'Bermohonlah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu itu', (Q.S. Ghafir, 60) mereka bertanya, 'Ke arah mana?' Maka turunlah ayat, 'Ke mana saja kamu menghadap di sanalah Zat Allah!'" (Q.S. Al-Baqarah 115)

Al-Baqarah / Madinah (2:120)

وَلَنۡ تَرۡضٰى عَنۡكَ الۡيَهُوۡدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡ‌ؕ قُلۡ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الۡهُدٰى‌ؕ وَلَٮِٕنِ اتَّبَعۡتَ اَهۡوَآءَهُمۡ بَعۡدَ الَّذِىۡ جَآءَكَ مِنَ الۡعِلۡمِ‌ۙ مَا لَـكَ مِنَ اللّٰهِ مِنۡ وَّلِىٍّ وَّلَا نَصِيۡرٍؔ‏ ﴿۱۲۰﴾  

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

walan tardaa 'anka alyahuudu walaa alnnashaaraa hattaa tattabi'a millatahum qul inna hudaa allaahi huwa alhudaa wala-ini ittaba'ta ahwaa-ahum ba'da alladzii jaa-aka mina al'ilmi maa laka mina allaahi min waliyyin walaa nashiirin

Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Baqarah 120 ?????? ??????? ?????? ?????????? ????? ??????????? ?????? ????????? ??????????? ???? ????? ????? ??????? ???? ???????? ???????? ?????????? ????????????? ?????? ??????? ??????? ???? ????????? ??? ???? ???? ??????? ???? ??????? ????? ??????? (120) Diketengahkan oleh Tsa`labi dari Ibnu Abbas katanya, "Orang-orang Yahudi Madinah dan Nasrani Najran berharap agar Nabi saw. melakukan salat dengan menghadap ke kiblat mereka. Maka tatkala Allah memalingkan ke Kakbah, mereka merasa keberatan dan putus asa; keislaman mereka tidak dapat diharapkan lagi. Maka Allah pun menurunkan, 'Orang-orang Yahudi dan Nasrani...' sampai akhir ayat." (Q.S. Al-Baqarah 120).

Al-Baqarah / Madinah (2:121)

اَلَّذِيۡنَ اٰتَيۡنٰهُمُ الۡكِتٰبَ يَتۡلُوۡنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِهٖ‌ ؕ وَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ‏ ﴿۱۲۱﴾  

121. Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya [84], mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. [84] Maksudnya: tidak merobah dan menta'wilkan Al Kitab sekehendak hatinya.

alladziina aataynaahumu alkitaaba yatluunahu haqqa tilaawatihi ulaa-ika yu/minuuna bihi waman yakfur bihi faulaa-ika humu alkhaasiruuna

Doni Maulana
Alquran-Indonesia.com
Situs Alquran online Indonesia

Juz Dalam Quran

TOP 10 Peserta Khatam Quran online 2017
Situs rekomendasi lain 2 sites
Nama Manfaat
House of Quran Situs ini sangat bermanfaat untuk pemula yang ingin belajar mengaji secara online,dilengkapi dengan tuntunan suara ayat demi ayat
Quran terjemah Situs ini sangat bermanfaat bagi yang ingin memperdalam ilmu tajwid
Database sql Kumpulan database sql alquran dunia

Do you want to logout?