Alquran Online

Alquran-Indonesia.com

Quran Online terjemahan perkata,tajwid,latin dan asbabun nuzul
  • Jumlah Surat

    114

  • Jumlah Ayat

    6236

Al-Fatihah / Makiah (1:1)

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [1] [1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar-Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang ar-Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.

bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi

Al-Baqarah / Madinah (2:47)

يٰبَنِىۡٓ اِسۡرَآءِيۡلَ اذۡكُرُوۡا نِعۡمَتِىَ الَّتِىۡٓ اَنۡعَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ وَاَنِّىۡ فَضَّلۡتُكُمۡ عَلَى الۡعٰلَمِيۡنَ‏ ﴿۴۷﴾  

47. Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat [45]. [45] Bani Israil yang telah diberi rahmat oleh Allah dan dilebihkannya dari segala ummat ialah nenek moyang mereka yang berada di masa Nabi Musa a.s.

yaa banii israa-iila udzkuruu ni'matiya allatii an'amtu 'alaykum wa-annii fadhdhaltukum 'alaa al'aalamiina

Al-Baqarah / Madinah (2:64)

ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِكَ‌‌ۚ فَلَوۡلَا فَضۡلُ اللّٰهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهٗ لَـكُنۡتُمۡ مِّنَ الۡخٰسِرِيۡنَ‏ ﴿۶۴﴾  

64. Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.

tsumma tawallaytum min ba'di dzaalika falawlaa fadhlu allaahi 'alaykum warahmatuhu lakuntum mina alkhaasiriina

Al-Baqarah / Madinah (2:105)

مَا يَوَدُّ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا مِنۡ اَهۡلِ الۡكِتٰبِ وَلَا الۡمُشۡرِكِيۡنَ اَنۡ يُّنَزَّلَ عَلَيۡڪُمۡ مِّنۡ خَيۡرٍ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ‌ؕ وَاللّٰهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهٖ مَنۡ يَّشَآءُ ‌ؕ وَاللّٰهُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِيۡمِ‏ ﴿۱۰۵﴾  

105. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar. #Menasakhkan sesuatu ayat adalah urusan Allah.

maa yawaddu alladziina kafaruu min ahli alkitaabi walaa almusyrikiina an yunazzala 'alaykum min khayrin min rabbikum waallaahu yakhtashshu birahmatihi man yasyaau waallaahu dzuu alfadhli al'azhiimi

Al-Baqarah / Madinah (2:115)

وَلِلّٰهِ الۡمَشۡرِقُ وَالۡمَغۡرِبُ‌ فَاَيۡنَمَا تُوَلُّوۡا فَثَمَّ وَجۡهُ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ‏ ﴿۱۱۵﴾  

115. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah [83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. [83] 'Disitulah wajah Allah' maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

walillaahi almasyriqu waalmaghribu fa-aynamaa tuwalluu fatsamma wajhu allaahi inna allaaha waasi'un 'aliimun

Diketengahkan oleh Muslim, Tirmizi, dan Nasai dari Ibnu Umar, katanya, "Nabi saw. biasa salat sunah di atas kendaraannya ke mana saja ia menghadap, sewaktu beliau kembali dari Mekah ke Madinah. Kemudian Ibnu Umar membaca, 'Dan milik Allah lah timur dan barat,' seraya berkata, 'Mengenai hal itulah ayat ini diturunkan.'" Diketengahkan pula oleh Hakim, katanya, diturunkan ayat, "...maka ke mana saja kamu menghadap, di sanalah Zat Allah," (Q.S. Al-Baqarah 115) Anda dapat melakukan salat sunat di atas kendaraan Anda ke mana saja ia menghadap. Ia berkata, "Hadis ini sah menurut syarat Muslim." Inilah yang paling sah isnadnya mengenai ayat tersebut, bahkan dijadikan pegangan oleh suatu golongan. Tetapi padanya tidak ada ketegasan menyebutkan sebab, hanya dikatakannya bahwa ayat itu turun mengenai soal ini, dan hal itu telah kita bicarakan dulu. Di samping itu ada pula kita temui riwayat yang menyatakan asbabun nuzulnya secara tegas, misalnya yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas, bahwa tatkala Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, beliau diperintahkan Allah untuk menghadap ke Baitulmakdis hingga orang-orang Yahudi gembira. Beberapa belas bulan lamanya Nabi menghadap ke Baitulmakdis, walau sebenarnya ia lebih menyukai kiblat Nabi Ibrahim. Ia selalu memohon kepada Allah dan menengadahkan mukanya ke langit, maka Allah pun menurunkan, "Maka palingkanlah mukamu ke arahnya." (Q.S. Al-Baqarah 144). Orang-orang Yahudi menjadi bingung karenanya, kata mereka, "Apa sebabnya mereka berpaling dari kiblat mereka semula?" Maka Allah pun menurunkan "Katakanlah! 'Dan milik Allah-lah timur dan barat', dan firman-Nya, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Isnadnya kuat dan maknanya juga menunjangnya, maka ambillah sebagai pegangan! Mengenai ayat ini, ada lagi beberapa riwayat lain yang lemah, misalnya yang dikeluarkan oleh Tirmizi, Ibnu Majah dan Daruquthni, dari jalur Asy`ats As-Saman, dari Ashim bin Abdullah, dan Abdullah bin Amir bin Rabiah dari bapaknya, katanya, "Kami berada bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan di malam yang gelap gulita, hingga kami tidak mengetahui lagi arah kiblat. Maka kami melakukan salat di kendaraan masing-masing dan tatkala hari telah pagi, kami sampaikan hal itu kepada Nabi saw., maka turunlah, 'maka ke mana saja kamu berpaling, di sanalah Zat Allah.'" (Q.S. Al-Baqarah 115). Menurut Tirmizi hadis ini gharib atau langka, sedangkan Asy`ats lemah dalam meriwayatkan hadis. Diketengahkan oleh Daruquthni dan Ibnu Murdawaih, jalur Arzami, dari Atha', dari Jabir, katanya, "Rasulullah saw. mengirim pasukan yang aku ikut di dalamnya. Tiba-tiba datang gelap gulita hingga kami tidak tahu arah kiblat; sebagian sahabat mengatakan bahwa sepengetahuan mereka kiblat itu di sini yakni ke arah utara. Mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis. Tetapi sebagian lagi mengatakan bahwa kiblat itu ke arah selatan, hingga mereka pun salat dan membuat jajaran garis-garis pula. Tatkala hari pagi dan sang matahari menampakkan diri, ternyata bahwa garis-garis semalam tidak menghadap ke arah kiblat. Maka tatkala kami kembali dari perjalanan dan kami tanyakan hal itu kepada Nabi saw. Beliau diam, lalu Allah menurunkan, 'Dan milik Allahlah timur dan barat...' sampai akhir ayat." (Q.S. Al-Baqarah 115). Diketengahkan oleh Ibnu Murdawaih, dari jalur Al-Kalbiy, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. mengirim satu ekspedisi. Tiba-tiba mereka diselimuti kabut hingga tidak tahu arah kiblat, lalu melakukan salat. Kemudian setelah matahari terbit, ternyata mereka salat tidak menghadap arah kiblat. Tatkala mereka bertemu dengan Rasulullah, mereka sampaikan peristiwa itu, dan Allah lalu menurunkan ayat ini, "Dan milik Allah-lah timur dan barat..." sampai akhir ayat. (Q.S. Al-Baqarah 115). Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Qatadah, bahwa Nabi saw. bersabda, "Seorang saudara kamu telah meninggal dunia (maksudnya Najasyi,) maka salatkanlah dia!" Jawab mereka, "Apakah kita akan menyalatkan seseorang yang tidak beragama Islam?" Maka turunlah ayat, "Sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah ..." sampai akhir ayat. (Q.S. Ali Imran 199). Kata mereka, "Tetapi salatnya ke arah kiblat." Maka Allah pun menurunkan, "Dan milik Allahlah timur dan barat ..." sampai akhir ayat. Riwayat ini amat gharib sekali, di samping ia mursal dan mu`dhal. Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Mujahid, katanya, "Tatkala turun ayat, 'Bermohonlah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu itu', (Q.S. Ghafir, 60) mereka bertanya, 'Ke arah mana?' Maka turunlah ayat, 'Ke mana saja kamu menghadap di sanalah Zat Allah!'" (Q.S. Al-Baqarah 115)

Al-Baqarah / Madinah (2:152)

فَاذۡكُرُوۡنِىۡٓ اَذۡكُرۡكُمۡ وَاشۡکُرُوۡا لِىۡ وَلَا تَكۡفُرُوۡنِ‏ ﴿۱۵۲﴾  

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu [98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku. [98] Maksudnya: Aku limpahkan rahmat dan ampunan-Ku kepadamu.

faudzkuruunii adzkurkum wausykuruu lii walaa takfuruuni

Al-Baqarah / Madinah (2:157)

اُولٰٓٮِٕكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٌ‌ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُهۡتَدُوۡنَ‏ ﴿۱۵۷﴾  

157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

ulaa-ika 'alayhim shalawaatun min rabbihim warahmatun waulaa-ika humu almuhtaduuna

Al-Baqarah / Madinah (2:178)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡكُمُ الۡقِصَاصُ فِى الۡقَتۡلٰى  ؕ الۡحُرُّ بِالۡحُـرِّ وَالۡعَبۡدُ بِالۡعَبۡدِ وَالۡاُنۡثَىٰ بِالۡاُنۡثٰىؕ فَمَنۡ عُفِىَ لَهٗ مِنۡ اَخِيۡهِ شَىۡءٌ فَاتِّبَاعٌۢ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَاَدَآءٌ اِلَيۡهِ بِاِحۡسَانٍؕ ذٰلِكَ تَخۡفِيۡفٌ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَرَحۡمَةٌ  ؕ فَمَنِ اعۡتَدٰى بَعۡدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيۡمٌۚ‏ ﴿۱۷۸﴾  

178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih [111]. [111] Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. Qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema'afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. Bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba 'alaykumu alqisasu fii alqatlaa alhurru bialhurri waal'abdu bial'abdi waaluntsaa bialuntsaa faman 'ufiya lahu min akhiihi syay-un faittibaa'un bialma'ruufi wa-adaaun ilayhi bi-ihsaanin dzaalika takhfiifun min rabbikum warahmatun famani i'tadaa ba'da dzaalika falahu 'adzaabun aliimun

Diketengahkan oleh Ibnu Hatim dari Said bin Jubair, katanya, "Ada dua anak suku Arab yang telah berperang antara sesama mereka di masa jahiliah, tidak lama sebelum datangnya agama Islam. Di kalangan mereka banyak yang mati dan yang menderita luka, hingga mereka juga membunuh hamba sahaya dan golongan wanita. Akibatnya sampai mereka masuk Islam, masih ada lagi yang belum mereka tuntutkan bela atau ambil kisasnya. Salah satu suku tadi membangga-banggakan kelebihannya terhadap yang lain, baik dalam banyaknya warga maupun harta. Mereka bersumpah tak akan rela sampai warga musuh yang merdeka dibunuh sebagai tebusan bagi budak mereka yang terbunuh, begitu pun warga musuh yang laki-laki, dibunuh sebagai kisas bagi warga mereka yang perempuan. Maka turunlah ayat, 'Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.'" (Q.S. Al-Baqarah 178)

Al-Baqarah / Madinah (2:210)

هَلۡ يَنۡظُرُوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ يَّاۡتِيَهُمُ اللّٰهُ فِىۡ ظُلَلٍ مِّنَ الۡغَمَامِ وَالۡمَلٰٓٮِٕکَةُ وَقُضِىَ الۡاَمۡرُ‌ؕ وَاِلَى اللّٰهِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ‏ ﴿۲۱۰﴾  

210. Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan [131], dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan. [131] Naungan awan bersama malaikat biasanya mendatangkan hujan yang artinya rahmat, tetapi rahmat yang diharap-harapkan itu tidaklah datang melainkan azab Allah-lah yang datang.

hal yanzhuruuna illaa an ya/tiyahumu allaahu fii zhulalin mina alghamaami waalmalaa-ikatu waqudhiya al-amru wa-ilaa allaahi turja'u al-umuuru

Al-Baqarah / Madinah (2:218)

اِنَّ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَالَّذِيۡنَ هَاجَرُوۡا وَجَاهَدُوۡا فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِۙ اُولٰٓٮِٕكَ يَرۡجُوۡنَ رَحۡمَتَ اللّٰهِؕ وَاللّٰهُ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ‏ ﴿۲۱۸﴾  

218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

inna alladziina aamanuu waalladziina haajaruu wajaahaduu fii sabiili allaahi ulaa-ika yarjuuna rahmata allaahi waallaahu ghafuurun rahiimun

Kata sebagian mereka, "Walaupun mereka tidak berbuat dosa, tetapi mereka juga tidak beroleh pahala." Maka Allah pun menurunkan, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka mengharapkan rahmat dari Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. Al-Baqarah 218) Ini juga diketengahkan oleh Ibnu Mandah dari golongan sahabat dari jalur Usman bin Atha' dari bapaknya dari Ibnu Abbas.

Doni Maulana
Alquran-Indonesia.com
Situs Alquran online Indonesia

Juz Dalam Quran

TOP 10 Peserta Khatam Quran online 2017
Situs rekomendasi lain 2 sites
Nama Manfaat
House of Quran Situs ini sangat bermanfaat untuk pemula yang ingin belajar mengaji secara online,dilengkapi dengan tuntunan suara ayat demi ayat
Quran terjemah Situs ini sangat bermanfaat bagi yang ingin memperdalam ilmu tajwid
Database sql Kumpulan database sql alquran dunia

Do you want to logout?